Monday, April 27, 2009

BAGIAN TEPI DARI NEGERI INDAH YANG BERNAMA PESANTREN

[Ini sebuah review dari Mas Abdul Wachid B.S., Dosen Bahasa dan Sastra STAIN Purwokerto dan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan penyair nasional.]

Membaca buku Sorban yang Terluka karya Abdul Waid, seorang anak muda yang matang dalam asuhan pesantren, rasa-rasanya seperti memasuki mimpi buruk, dan semoga tidak menjadi bangun tidur dengan kenyataan yang benar-benar kacau bagai di Sodom-Gomorah.
Negeri pesantren, bagi saya yang gagal dalam mengeyam pendidikan di pesantren, sampai hari ini pun masih saya persepsi dan saya posisikan sebagai “negeri yang indah”. Sengaja menyebutnya sebagai “negeri” sebab konotasinya kembali kepada “masilam” yang penuh romantisme. Mengapa masasilam? Memang, ada masasilam yang buram, dan ada masa silam yang indah. Tetapi, tatkala masasilam yang buram itu pun telah terlewati dengan selamat, maka masasilam yang buram itu pun menjadi bagian dari masadepan indah yang dicitakan. Setidaknya demikianlah ketika orang mengenang perjalanan hidupnya penuh liku, dan berujung kepada kesuksesan hidup.
Negeri pesantren, ketika orang membayangkan masadepan yang lebih baik untuk belajar agama dan kehidupan pun jelas mempersepsi dan memposisikannya sebagai negeri penjaga moral, yang sejalan dengan idealitas surga.
Negeri pesantren yang ditulis oleh Abdul Waid ini adalah negeri tempat di mana dia sedang berproses menjadi seorang Manusia dengan M-kapital. Negeri pesantren dapat dikatakan sebagai miniatur dari dunia (di luar pesantren), yang apa saja juga ada, dari yang terburuk sampai yang terbaik.
Akan tetapi, tersebab apa yang ditulis oleh Abdul Waid ini dari sudut pandang “cerita kelam”, maka sudah dapat diduga sebelum membaca bahwa yang dipotret pastilah kenyataan-kenyataan yang tidak diidealkan oleh kiai dan pesantren itu sendiri sebagai figur dan lembaga yang diidealkan menjaga bahkan mengembangkan moralitas baik.
Tidak ada gading yang tak retak, tidak terkecuali di negeri pesantren yang indah ini. Akan tetapi, dalam sepanjang sejarah, masyarakat senantiasa memaksudkan negeri pesantren ini sebagai negeri penjaga moral, negeri tempat bengkel dari moralitas yang rusak agar bisa tersegarkan oleh iklim kesejukan yang menghembus dari figur kiai-yang-indah, kekasih Allah Yang Maha Indah.
Adapun di dalam negeri indah yang bernama pesantren ini ada sisi-sisi kelam ternoda, tentu hal yang biasa sebab antara “pesantren di dalam realitas” dan “pesantren di dalam cita-cita” merupakan dua kenyataan yang berbeda. Akan tetapi, justru menjadi penting banget agar kita bertahan mempersepsi dan memposisikan negeri pesantren seperti niatan semula, yakni sebagai “negeri yang indah”, tempat romantisme dan “kesempurnaan manusia” diupayakan sebisa mungkin berlangsung di dalam negeri itu sekalipun tahu bahwa kesempurnaan hanyalah dunia-makna yang petanda-petandanya semakin tidak banyak bahkan menjadi samar. Boleh jadi, petanda-petanda itu mengalami hantaman angin puting-beliung yang datangnya dari berbagai arah, tidak cuma Barat, sehingga jejak-jejak keindahan itu menjadi kian kusam, dan saya ngeri memandangnya.
Membaca buku Sorban yang Terluka karya Abdul Waid, semoga apapun yang diniatkan sebagai cahaya tetaplah itu berujung menjadi penerang jalan sekalipun pejalan itu menyaksikannya dari balik kegelapan, bagian tepi dari negeri indah yang bernama pesantren. (Abdul Wachid B.S., penyair)

No comments:

Post a Comment

komentar Anda sangat membantu kami mengembangkan isi blog ini...terimakasih!